Berdasarkan Statistik Pembiayaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tren kenaikan NPF terjadi sejak Mei 2015 dan terus mendaki hingga saat ini.
Suwandi Wiratno, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) mengatakan, kenaikan NPF tidak terlepas dari perlambatan pertumbuhan pembiayaan. Apalagi, penyumbang bisnis pembiayaan kedua terbesar setelah pembiayaan konsumen, yaitu sewa guna usaha mengalami penurunan hingga 9,40 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekadar informasi, per Mei 2016, pembiayaan yang mengalir ke segmen sewa guna usaha sebesar Rp101,44 triliun atau turun 9,40 persen. Sementara, pembiayaan konsumen cuma tumbuh 2,65 persen menjadi Rp255 triliun dari periode yang sama tahun lalu, yaitu Rp248,44 triliun.
"Kalau pembiayaannya tumbuh, saya kira, NPF akan menyusut. Perkiraan saya, NPF sampai akhir tahun berada di kisaran 2-2,5 persen. Ini masih di bawah NPL bank dan jauh dari ketentuan maksimal 5 persen. Ya, tidak terlalu mengkhawatirkan lah," terang Suwandi.
Rasio pembiayaan bermasalah PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) juga ikut terkerek dari 1,6 persen menjadi 1,8 persen. Kenaikan terutama disumbang oleh bisnis pembiayaan kendaraan bermotor roda empat jenis komersial (produktif) ketimbang mobil penumpang.
"NPL naik karena kegiatan usaha nasabah terpengaruh ekonomi," kata Willy S Dharma, Direktur Utama Adira Finance, belum lama ini. (bir)