Suwandi Wiratno, Ketua Umum APPI mengungkapkan, laba multifinance masih akan bergejolak seiring dengan aktivitas penyaluran pembiayaan yang lesu. Hal ini terutama terjadi pada lini sewa guna usaha dan pembiayaan konsumen (kendaraan bermotor).
“Karena, pembiayaan baru (new booking) masih rendah. Hal ini dikarenakan daya beli masyarakat masih lemah seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang masih sama saja. Masyarakat juga mengencangkan ikat pinggang untuk beli mobil, motor,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, akhir pekan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masyarakat kelas menengah ke bawah mulai melakukan efisiensi dan menahan daya beli. Mereka melakukan aksi wait and see sampai semester pertama berakhir. Alhasil pembiayaan konsumen belum bisa tumbuh normal. Pada April 2016, lini pembiayaan hanya tumbuh 2,08 persen.
Berdasarkan Statistik Lembaga Pembiayaan yang dilansir Otoritas Jasa Keuangan, sampai April 2016 laba multifinance tercatat sebesar Rp3,25 triliun atau turun 17,71 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu.
Penurunan laba tersebut didorong oleh beban industri yang naik 7,02 persen menjadi Rp24,45 triliun. Di sisi lain, pendapatannya hanya meningkat 4,40 persen menjadi Rp29,19 triliun.
Kinerja keuangan yang lesu ini tidak terlepas dari bisnis pembiayaan industri yang kurang bergairah pada empat bulan pertama tahun ini. Secara total, penyaluran pembiayaan industri turun 1,07 persen pada April 2016 dibandingkan April 2015.
"Saya tidak tahu perilaku konsumen seperti apa. Bunga kredit mau turun, tetapi belum turun juga. Biaya dana juga relatif sama. Saya belum melihat ada perbaikan sampai semester pertama ini. Mungkin nanti di semester kedua atau setelah ada kepastian mengenai tax amnesty yang ikut mempengaruhi industri multifinance," pungkasnya.