Christina Verchere, Regional President Asia Pacific BP menyambut hangat disepakatinya FID ini, mengingat perusahaannya telah menunggu sejak Plan of Development (PoD) disetujui tahun 2012 silam. Apalagi, dengan kapasitas yang besar, ia berharap, proyek ini bisa memberi efek ganda terhadap perekonomian Indonesia.
"Kami berharap, Tangguh bisa menjadi salah satu penyumbang gas terpenting bagi Indonesia. Pengumuman ini bukan hanya dinantikan oleh kami, namun juga oleh Indonesia mengingat sebagian besar alokasi gas kami akan ditujukan bagi pasar domestik," ujar Christina, Jumat (1/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, fasilitas LNG tersebut sudah bisa beroperasi di tahun 2020. "Kami sudah melakukan review seluruh proyek ini, seperti proses pengadaan EPC untuk fasilitas onshore LNG. Memang perjanjian sudah disepakati, namun ini baru langkah awal dari realisasi investasi tersebut," katanya di lokasi yang sama.
"Dan kami yakin kualitas Tangguh Train 3 tidak akan menurun, karena nilai investasinya disesuaikan. Pasalnya, yang merancang disain bangun dan yang mengerjakan adalah pihak yang sama, jadi diharapkan tidak ada cela," terang dia.
Sebagai informasi, proyek Tangguh Train 3 menyumbang kapasitas sebesar 3,8 juta Metrik Ton per tahun (MTPA), sehingga membuat total kapasitas kilang LNG Tangguh menjadi sebesar 11,4 MTPA. Sebanyak 75 persen hasil fasilitas LNG ini diperuntukkan bagi pasokan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) PT PLN (Persero). Sementara sisanya, dialokasikan bagi pembangkit listrik lokal berkapasitas 100 Megawatt (MW), Kansai Electric Power, dan bagi dua pabrik pupuk di Teluk Bintuni.
Selain BP, beberapa investor yang ikut serta di pengembangan fasilitas LNG Tangguh, antara lain MI Berau BV (16,30 persen), CNOOC Muturi Ltd (13,90 persen), Nippon Oil Exploration (Berau) Ltd (12,23 persen), KG Berau/KG Wiriagar (10 persen), Indonesia Natural Gas Resources Muturi Inc (7,35 persen), dan Talisman Wiriagar Overseas Ltd (3,06 persen). (bir)