“Gapensi menyambut baik implementasi kebijakan ini. Sektor konstruksi paling diuntungkan oleh program ini,” ujar Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Pusat Gapensi, Andi Rukman Karumpa dalam keterangan resmi, Rabu (20/7).
Dengan tax amnesty ini, kata Andi, potensi industri konstruksi akan semakin besar. Dia memperkirakan market size konstruksi di Indonesia akan melonjak dua kali lipat dari saat ini sebesar Rp1.000 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Andi mengatakan, pasar konstruksi Indonesia saat ini merupakan yang terbesar di Asean. Kontribusinya sekitar 60-70 persen. Sedangkan di tingkat Asia, Indonesia berada di posisi ke-4 setelah China, Jepang, serta India.
Terkait tax amnesty, menurutnya dua sektor pendukung konstruksi lainnya seperti properti dan infrastruktur akan meraih manfaat langsung dari menguatnya likuiditas di sektor keuangan.
Banjir likuiditas di sektor keuangan dan pasar modal ini, lanjut Andi, membutuhkan instrumen investasi di sektor riil. Sektor yang paling siap menampung likuiditas tersebut yakni infrastruktur dan properti.
Dia mengatakan, sentimen positif dari pemberlakuan tax amnesty telah terlihat dari menguatnya saham-saham emiten. Selama tiga hari berturut-turut, sejak Selasa (28/6) hingga Kamis (30/6), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 3,69 persen.
“Sepanjang tahun ini atau year to date (ytd), IHSG sudah menguat 8,24 persen. Investor asing terus merangsek masuk Bursa Efek Indonesia,” katanya.
“Dari sisi fiskal akan positif. Kita akan punya dana yang cukup untuk pembangunan infrastruktur dari sisi anggaran negara. Konstruksi dan material akan diuntungkan. Gapensi memperkirakan terjadi lonjakan permintaan barang material seperti semen, beton, bahan bangunan, besi, dan sebagainya,” katanya.
(gir)