Direktur Pembiayaan BCA, Rudy Susanto menjelaskan, peningkatan NPL disebabkan karena beberapa kredit dengan peringkat kualitas kolektibilitas 2, atau kredit perhatian khusus (special mention), diprediksi memburuk dan berubah status menjadi NPL di periode tersebut. Kendati demikian, peningkatan NPL ini tidak akan terlalu tajam mengingat jumlah kredit dengan peringkat kolektibilitas 2 tidak separah tahun lalu.
Sebagai informasi, kredit special mention per Juni 2016 tercatat sebesar Rp5,82 triliun atau menurun 7,17 persen dibanding posisi akhir Desember 2015 dengan besaran Rp6,27 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia melanjutkan, puncak NPL akan terjadi pada bulan September mendatang. Selain itu, Rudy mengatakan seluruh segmen pembiayaan juga menyumbang NPL dengan kontribusi yang imbang.
Rudy juga mengatakan, perusahaannya siap menambah coverage ratio Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) jika memang dibutuhkan untuk menanggulangi NPL di semester mendatang. Sebagai informasi, perusahaan menyiapkan CKPN sebesar Rp2 triliun per Juni 2016 yang bisa menutupi 193 persen dari NPL.
"Penambahan dana pencadangan juga akan kami lihat, apakah perlu atau tidak. Karena kan nanti yang turun coverage ratio, antara provisi yang kita bentuk dengan NPL, namun kami harap pembentukan provisioning ini sesuai dengan kebutuhannya," ujarnya.
Melengkapi ucapan Rudy, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan lesunya ekonomi sektor riil nantinya tetap akan mempengaruhi besaran NPL di semester mendatang. Bahkan menurutnya, kondisi itu sudah mulai terlihat pada semester I tahun ini.
"Bisnisnya masih sepi saja, misalnya bisnis kapal tongkang. Itu kan sangat bergantung dari pertambangan, padahal pertambangan juga melesu karena harga internasionalnya juga lesu. Bisnis memang sedang slow down," jelasnya di lokasi yang sama.
"Begitu NPL kan ada restructuring, begitu selesai restructuring ya NPL turun. Memang perlu waktu dalam beberapa hal misalkan penyitaan aset atau aspek legal lainnya," ujar Jahja.
Sebagai informasi, NPL per Juni 2016 sebesar 1,4 persen meningkat 27 persen dibandingkan posisi Maret 2016 sebesar 1,1 persen. Sementara itu, jumlah NPL per Juni 2016 tercatat sebesar Rp5,24 triliun atau meningkat 87,14 persen dibandingkan posisi akhir 2015 sebesar Rp2,8 triliun. (gir)