"Untuk domestik trennya naik, gas untuk ekspor trennya turun. Arah ke depan juga akan sama, gas untuk ekspor memang akan turun," ujar Amien, Jakarta (22/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Amien menyayangkan minimnya penyaluran gas alam cair (Liquiefied Natural Gas/LNG) untuk pasar domestik, yang jumlahnya hanya 403,79 BBTUD atau 10,05 persen dari total penjualan gas di dalam negeri.
"Seperti contohnya, LNG yang ada di Tangguh yang dioperatori British Petroleum. Itu tidak bisa dikirim ke Jayapura karena infrastrukturnya belum memadai, apalagi Merauke. Memang sudah ada tandatangan Menteri ESDM terkait alokasi LNG ke Papua, tapi nyatanya tidak bisa karena sarananya," ujar Amien.
Maka dari itu, Amien mengatakan, Indonesia mau tak mau harus mengalokasikan sebagian besar LNG bagi pasar ekspor. Dari data yang dimilikinya, ekspor LNG pada semester I 2016 mencapai 1.989 BBTUD atau 83,12 persen dari total produksi LNG dalam negeri sebesar 2.392,79 BBTUD.
"Tapi seiring waktu, kami harap alokasi LNG bagi pasar ekspor bisa dialihkan untuk domestik," tutur Amien.
Sebelumnya, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat SKK Migas, Taslim Yunus mengatakan, penyerapan LNG dalam negeri terbilang susah karena harganya pasca regasifikasi terbilang lebih mahal. Ia mencontohkan harga regasifikasi di Terminal Arun-Belawan yang disebutnya sebagai harga gas paling mahal di dunia.
"LNG adalah barang mewah untuk listrik, sehingga tidak efisien secara ekonomi. Jadi sebaiknya LNG dialokasikan bagi sektor industri yang multiplier effect-nya lebih besar, namun sayang industri di Sumatera sana belum banyak yang siap sehingga tidak terserap optimal," terangnya, Selasa (20/7). (ags)