Adapun, di sepanjang Januari - 18 Juli 2016, BI mencatat, total capital inflow mencapai US$8,5 miliar atau setara dengan Rp110 triliun.
"Ini menunjukkan adanya sentimen positif terhadap perekonomian Indonesia," ungkap Juda Agung, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI dalam Seminar Perkembangan Ekonomi Indonesia, Senin (25/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penundaan kenaikan suku bunga The Fed, menurut Juan, membuat para investor mengalihkan dana-dananya ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Pada saat yang bersamaan, pemerintah mengesahkan Undang-Undang Pengampunan Pajak atau Tax Amnesty (UU Tax Amnesty) yang membuat munculnya para wajib pajak (WP) dari luar negeri untuk memberikan andil terhadap peningkatan capital inflow melalui repatriasi aset.
Lihat juga:Bank Konsentrasi Jaga Rasio Likuiditas |
"Fundamental makro Indonesia semakin membaik, defisit transaksi berjalan, inflasi, sehingga uang masuk diprediksi terus mengalir. Ini membuat Indonesia menjadi negara tujuan inflow bersama Filipina dan India karena dianggap memiliki prospek ekonomi yang baik," tutur Juda.
Adapun inflasi berada di angka 4 persen dan defisit transaksi berjalan 2,2 persen yang membuat likuiditas terjaga. (bir)