Makanya, selain mengejar pertumbuhan kredit, bank-bank bakal lebih agresif mengejar pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, misalnya. Sadar diri, pertumbuhan kreditnya menjulang hingga 23,7 persen pada semester I 2016, Achmad Baequni, Direktur Utama BNI menargetkan, pertumbuhan DPK akan menyusul pertumbuhan penyaluran kredit.
"Di semester I 2016, pertumbuhan DPK di kisaran 17-19 persen. Untuk mempertahankan LDR di posisi 85-90 persen hingga akhir tahun, kami butuh mengejar pertumbuhan DPK lebih dari 19 persen. Kami optimistis, dengan berharap dari repatriasi pengampunan pajak (tax amnesty), selain dari DPK tentunya," tutur Achmad Baiquni kepada CNNIndonesia.com, Senin (25/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami pasti akan seimbangkan pertumbuhan kredit dengan ketersediaan dana. Kalau sewaktu-waktu ternyata pertumbuhan kredit lebih kencang dari DPK, itu lebih bagus. Ada potensi aliran dana repatriasi dari tax amnesty dan kami tengah menyiapkan penerbitan instrumen keuangan, seperti Negotiable Certificate Deposit (NCD)," terang Baiquni.
Kartika Wirjoatmodjo, Direktur Utama Bank Mandiri memproyeksi, pertumbuhan kredit Bank Mandiri sampai akhir tahun nanti mencapai 10 persen, turun dari tahun sebelumnya yang sebesar 12 persen. "Kalau tahun lalu, pertumbuhan kredit kencang, tapi sumber dananya melambat. Sekarang, mulai disesuaikan. Kredit tumbuh 10 persen, dananya 5 persen, secara nominal mirip-mirip lah," imbuh dia. (bir)