Direktur Utama BTN Maryono mengatakan, kenaikan laba BTN di paruh pertama tahun ini disumbang oleh kenaikan permintaan kredit pemilikan rumah (KPR) yang cukup tinggi. Permintaan KPR telah menyumbang pendapatan operasional BTN.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, tercatat pendapatan bunga bersih tumbuh 15,71 persen dari periode yang sama tahun lalu menjadi Rp3,69 triliun. Sementara, pendapatan operasional lainnya sebesar Rp584 miliar atau tumbuh 12,56 persen dari semester pertama tahun lalu yang sebesar Rp519 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"NIM perkiraan akhir tahun akan mencapai 5,1 persen. Kenapa? Karena, semester II, biaya dana (cost of fund) semakin turun akibat perubahan acuan moneter, dan adanya dana likuiditas dari dana repatriasi," ujarnya, Senin (25/6).
BTN juga mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit non perumahan sebesar 2,64 persen menjadi Rp13,57 triliun. "Dengan permintaan kredit yang signifikan, kami targetkan laba mencapai Rp2,4 triliun hingga akhir tahun," kata Maryono.
Di tengah tren kenaikan rasio kredit bermasalah di industri perbankan, BTN justru mencatatkan penurunan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL). NPL gross BTN turun dari 4,70 persen tahun lalu menjadi 3,41 persen selama semester I-2016.
Direktur BTN Sulis Usdoko bilang, penurunan NPL tersebut merupakan hasil kinerja BTN dalam merestrukturisasi perjanjian kredit nasabah yang bermasalah sejak tahun lalu.
"Kami antisipasi bila ditemukan sesuatu yang perlu perbaikan yang dalam konteks membantu nasabah dan debitur kita lakukan langkah proaktif salah satunya restrukturisasi. Selain itu, intensitas penjualan agunan kredit-kredit macet juga sudah konsisten sejak tahun lalu. Sehingga, kualitas kredit kami menjaga NPL di bawah 3 persen," pungkasnya. (bir)