Dari dua emiten tersebut, Indocement mengalami penurunan pendapatan lebih besar dibanding Semen Indonesia, yaitu 14,63 persen menjadi Rp7,741 triliun dari sebelumnya Rp8,874 triliun. Sementara, pendapatan Semen Indonesia menurun tipis 1,36 persen menjadi Rp12,470 triliun dari Rp12,640 triliun.
Namun, dari sisi laba bersih sendiri Indocement mengalami pertumbuhan sebesar 5,19 persen dari Rp2,429 miliar menjadi Rp2,309 miliar. Berbeda dengan Semen Indonesia yang menurun 11,25 persen menjadi Rp1,964 triliun dari Rp2,185 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, kondisi industri semen nasional baru akan membaik pada semester II 2016 sejalan dengan kebijakan amnesti pajak, menurunnya suku bunga, dan berlakunya pelonggaran aturan loan to value (LTV) kredit pemilikan rumah (KPR). Kombinasi faktor-faktor tersebut diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap kelebihan kapasitas dan harga.
"Masalahnya ya masih berlebihan kapasitas, lalu datangnya kompetitor dari asing yang juga membuka pabrik di Indonesia," kata Salman kepada CNNIndonesia.com, Selasa (2/8).
Produsen semen sendiri, lanjut Salman, sangat bergantung dengan proyek properti dan konstruksi. Namun kontribusi terbesar berasal dari proyek properti sebesar 80 persen, sedangkan konstruksi sebesar 20 persen.
Melambatnya proyek properti sendiri pada semester I 2016 ini turut berdampak pada penjualan semen, sehingga mempengaruhi jumlah permintaan yang semakin sedikit.
Salman memprediksi proyek konstruksi akan bertambah secara signifikan seiring dengan masuknya dana repatriasi dari kebijakam amnesti pajak. Hal ini tentu akan mempengaruhi permintaan akan semen, sehingga diperkirakan permintaan semen untuk proyek konstruksi hingga akhir tahun akan tumbuh empat persen.
"Semester dua nanti proyek-proyek konstruksi lebih banyak berjalan jadi mempengaruhi, harusnya bisa membantu pertumbuhan penjualan semen. Uang akan masuk banyak dari amnesti pajak, jadi proyek konstruksi juga akan lebih lancar jadi pengaruhnya nanti pada penjualan semen," katanya.
"Saat ini, kami lebih memilih Semen Indonesia dibandingkan dengan Indocement karena kami menilai Semen Indonesia lebih tidak terpengaruh oleh tekanan harga jual rata-rata karena eksposur di luar Jawa dan infrastruktur," kata Liliana dalam risetnya. (gir/gen)