R. Gunung Sardjono Hadi, Direktur Utama PHE mengatakan, optimisme tersebut berbekal dari torehan produksi gas semester I 2016 sebesar 728 MMSCFD yang telah melampaui target tersebut.
"Faktor pendorong peningkatan produksi gas dari on stream-nya Senoro Toili dan tambahan akuisisi Blok NSO/B," ujar Gunung, Senin (8/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gunung menjelaskan, dari sisi produksi minyak, perusahaannya terus berupaya meningkatkan rasio profitabilitas. Caranya adalah dengan merotasi penggunaan peralatan sehingga bisa lebih ekonomis. Ia mencontohkan, pengeboran pengembangan yang mahal dipindahkan ke kerja ulang (work over) sehingga biaya lebih murah, tetapi berkontribusi pada produksi.
Sepanjang tahun ini, PHE masih akan fokus pada blok-blok yang masih menjadi andalan untuk memberikan kontribusi besar seperti PHE Offshore North West Java (ONWJ) dan PHE West Madura Offshore (WMO). Sedangkan lapangan yang berpotensi memberikan kontribusi produksi tambahan dalam dua-tiga tahun mendatang adalah Lapangan Senoro Toili, Jambi Merang dan hasil akuisisi Blok NSO/B untuk peningkatan produksi gas.
Gus Irawan Pasaribu, Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai, PHE seharusnya bisa tetap meningkatkan produksi minyaknya tahun ini.
Menurut Gus Irawan, Pertamina sebagai BUMN, dituntut untuk ikut berkontribusi menciptakan kestabilan ekonomi makro, termasuk kestabilan rupiah.
Berly Martawardaya, pengamat ekonomi energi dari Universitas Indonesia, menilai prestasi PHE dalam meningkatkan produksi gas patut diapresiasi, apalagi di saat perusahaan migas lain menurunkan produksi. Namun tentu harus tetap dievaluasi untuk menaikkannya secara ekonomis, lalu bisa jadi fondasi juga dalam meningkatkan kerja sama dan produksi ke depannya.
"Memastikan sudah ada pembeli karena gas biasanya sudah ada kontrak jangka panjang. Jadi mudah-mudahan ini jadi sinyal positif kepercayaan investor terhadap Pertamina,” kata Berly. (gen)