Laporan analisis Stabilitas dan Sistem Perbankan kuartal II 2016, Ekonom LPS Mochammad Doddy Ariefianto dan Seto Wardono menjelaskan ekonomi dan sistem keuangan Indonesia pada kuartal I secara kualitatif berada dalam kondisi normal sama seperti kondisi sebelumnya.
Namun dari enam aspek yang dipantau LPS, terdapat tiga aspek yang mengalami pelemahan kinerja selama kuartal I lalu yakni aktivitas bisnis domestik, kebijakan fiskal dan sistem perbankan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan rasio kredit bermasalah (NPL) juga membuntuti hingga menyentuh level 2,93 persen pada April lalu. Sementara pertumbuhan kredit hingga April juga melemah menjadi 7,95 persen dibandingkan pertumbuhan tahun lalu.
Doddy menyebut, pertumbuhan kredit dan DPK pada semester II akan banyak bergantung pada eksekusi anggaran belanja pemerintah pusat dan daerah.
LPS juga melihat kedepannya arah pertumbuhan perbankan masih tertekan akibat melemahnya berbagai sektor ekonomi yang masih mengalami perlambatan seperti tambang dan komoditas.
"Prospek perbankan juga kami pandang melemah selaras dengan ekspektasi berlanjutnya tekanan terhadap kualitas kredit serta pertumbuhan kredit dan DPK akibat aktivitas ekonomi yang masih melemah," jelas Doddy.
Imbal Hasil
Kendati diproyeksi masih mengalami tekanan, namun Doddy berpendapat fundamental makroekonomi yang stabil saat ini masih menjanjikan imbal hasil yang menarik bagi para investor. Dengan skala ekonomi dan tingkat konsumsi masyarakat yang besar, Doddy melihat Indonesia masih menjadi negara yang menarik bagi investor.
Tren suku bunga sendiri berdasarkan pemantauan oleh LPS hingga Juni 2016, secara rata-rata terus mengalami penurunan. Begitu pula dengan suku bunga pasar simpanan valas, ditambah likuiditas valas yang masih longgar akibat kredit valas yang terus menurun jumlahnya.
"Tren penurunan bunga deposito kami perkirakan masih akan berlanjut hingga akhir tahun walau dengan angka yang lebih rendah," kata Doddy. (gen)