Sebagai bukti, PT Asuransi Jasindo (Persero) dan PT Asuransi Adira Dinamika hanya membukukan pertumbuhan premi single digit hingga Juli 2016. Pertumbuhan tipis ini diklaim sejalan dengan makro ekonomi nasional yang melambat.
Jasindo, misalnya, perusahaan asuransi pelat merah ini membukukan premi sebesar Rp2,66 triliun hingga Juli 2016 atau tumbuh 6,6 persen jika dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama tahun lalu, yakni Rp 2,5 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal senada disampaikan Indra Baruna, Direktur Utama Adira Insurance. Menurut dia, untuk mencetak pertumbuhan bisnis persis seperti tahun lalu, tidak mudah. Bahkan, akan menjadi luar biasa di tengah ekonomi makro saat ini yang kurang darah.
“Kuartal I, industri tumbuh berapa? 4 persen. Kemudian, kuartal II menjadi besar, ya karena sifatnya hanya insidental. Kalau hal-hal yang insidental itu dikeluarkan, apa iya industri bisa tumbuh drastis? Saya tidak yakin,” imbuh dia.
Yasril Y Rasyid, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) sebelumnya mengaku optimistis bisnis asuransi umum akan menyentuh 15-20 persen sampai akhir tahun nanti. Kepercayaan diri yang tinggi berkaca pada membaiknya ekonomi makro kuartal II dan harapan dari kebijakan pengampunan pajak. (gir)