“Kami akan rinci lagi sektornya, tapi menurut kami industri makanan dan minuman, agrobisnis, dan otomotif memungkinkan. Demikian juga tekstil dan produk tekstil," ungkap Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, kemarin malam.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kontribusi sektor industri terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 5,18 persen pada kuartal II 2016 lalu belum maksimal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertumbuhan Industri
Airlangga memastikan, rencananya mendongkrak sektor industri lain, tentu tidak bisa memberikan hasil dalam waktu yang singkat. Pasalnya, pengembangan industri perlu diproyeksi dengan perencanaan yang cukup panjang.
"Industri itu tidak bisa jangka pendek. Setidaknya (hasilnya) terasa dalam jangka menengah," tambah politisi Partai Golkar.
Tak hanya dari karakter pengembangan industri, Kemenperin juga merasa, sejumlah regulasi dari pemerintah melalui paket kebijakan belum sepenuhnya memberikan dampak pada perkembangan industri. Pasalnya, beberapa kendala masih menghambat perkembangan industri.
"Karena industri ini banyak, masalahnya juga banyak, dari infrastruktur, dari logistik, dan lainnya," ujarnya.
Di sisi lain, meski berencana menggenjot sejumlah sektor industri, Airlangga mengaku, pemangkasan anggaran yang dilakukan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), tidak akan mengganggu kinerja Kemenperin. Pasalnya, pemangkasan anggaran yang dilakukan Kemenperin hanya sebesar 10 persen atau sebanyak Rp2,89 triliun.
"Kalau 10 persen tidak mengganggu prioritas utama. Kalau anggaran ini berkaitan dengan anggaran kementerian. Jadi, tidak berkaitan langsung dengan pertumbuhan sektor lain, termasuk kinerja industri. Tapi ini harus kita diskusikan dulu ke Kemenkeu,” tandasnya. (gen)