“Saya menekankan supaya lebih cepat pengembangan (PGE) saya ingin dorong karena geotermal itu energi bersih, energi yang terbarukan. Jadi kami dorong supaya lebih cepat geraknya,” tutur Rini saat ditemui di Kantor Kementerian BUMN, Jumat (12/8).
Rini mengungkapkan, PLN hanya akan mencaplok sebagian kepemilikan Pertamina di PGE. Dengan demikian, komposisi kepemilikan PGE 50 persen akan berada di Pertamina sementara sisanya menjadi milik PLN.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Jadi PGE tetap bagian dari Pertamina. Jangan lupa, PLN juga tidak bisa sendiri karena dalam drilling itu ahlinya Pertamina. Tapi jual listrik bukan ahlinya Pertamina. Pertamina ahlinya jual BBM. Karena itu kami tekankan (PGE) harus dikaitkan dengan PLN,”ujarnya.
“Saat ini pengembangan listrik panas bumi PGE mungkin baru sepertiga (dari target),” ujarnya.
Secara terpisah, Direktur Utama PLN Sofyan Basyir mengaku masih menghitung besaran dan sumber dana yang akan disiapkan untuk menyuntikkan modal pada PGE.
Menurut Sofyan, PLN nantinya bisa membuat PGE semakin besar dan efisien. Hal itu diharapkan bisa menekan harga listrik panas bumi di pasar.
“Sekarang harga listrik panas bumi ada yang 11 (sen dolar AS per kWh), ada yang 13 (sen dolar AS per kWh). Harapannya bisa lebih rendah, siapa tahu bisa single digit,” ujarnya. (gir/gen)