Maklum, persentase pertumbuhan kredit BRI dan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) bank spesialis Kredit Usaha Rakyat (KUR) itu cukup menjadi perhatian. Selama semester I 2016, kredit BRI tumbuh 17,3 persen, lebih tinggi daripada pertumbuhan DPK-nya yang hanya 14,5 persen.
BRI juga membukukan kenaikan margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) dari 7,88 persen pada semester I tahun lalu menjadi 8,43 persen pada semester I 2016 lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang di benak kami bagaimana mendapat likuiditas dalam jumlah besar dan murah. Kalau ini bisa dilakukan pertanyaan terkait suku bunga hingga margin bunga bersih (NIM) pasti akan terjawab," ujar Asmawi, Senin (15/8).
Ikut Aturan Baru
Selain itu manajemen BRI juga bertekad terus menjaga rasio pinjaman terhadap likuiditas (Loan to Deposit Ratio/LDR) di level 90 persen.
Wakil Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, BRI juga mengkaji pengaruh perubahan acuan moneter Bank Indonesia (BI) 7 Days Reverse Repo Rate terhadap penurunan suku bunga. Yang pasti menurutnya, BRI akan membuat kebijakan internal yang berfungsi menindaklanjuti perubahan acuan moneter tersebut.
“Kami pahami dulu kebijakan ini. Soalnya pemahaman kami itu adalah memepercepat transmisi kebijakan moneter ke kebijakan pebisnis. Perkiraan kami yang paling responsif terhadap perubahan suku bunga ini adalah di segmen konsumer terutama di segmen kredit ritel," katanya.