Suwandi Wiratno Siahaan, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia mengungkapkan, penurunan NPF seiring dengan tumbuhnya penyaluran pembiayaan, meskipun kurang dari satu persen. Yakni, dari Rp369,89 triliun pada Juni 2015 menjadi sebesar Rp372,89 triliun pada periode yang sama tahun ini.
"Pembiayaan, terutama di segmen pembiayaan konsumen terdongkrak perayaan Idul Fitri. Sehingga, faktor pembaginya untuk NPF Juni lalu menjadi lebih longgar," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (15/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan NPF industri multifinance sejalan dengan kondisi di lapangan. PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk, misalnya mencatatkan peningkatan NPF sebanyak 10 bps menjadi 1,89 persen pada Juni 2016. Namun begitu, anak usaha PT Bank Danamon Indonesia Tbk tersebut berjanji bakal menjaga level NPF di kisaran 1,7 persen.
Makanya, meski NPF naik, Adira Finance masih mampu membukukan pertumbuhan laba hingga 199,4 persen, yaitu dari Rp198 miliar pada semester I 2015 lalu menjadi sebesar Rp593 miliar pada periode yang sama tahun ini.
"Laba kami naik karena biaya dana kami turun, sehingga net margin meningkat. Kami juga lebih selektif dalam harga. Selain itu, kami melakukan efisiensi biaya operasional. Terus, cost recovery tadi kami naikkan sejak tahun lalu," imbuh Made.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan laba industri multifinance yang tercatat turun tipis 3,78 persen menjadi hanya Rp5,44 triliun. Pun demikian, penurunan laba tersebut masih lebih baik ketimbang bulan sebelumnya yang mencapai 7,7 persen. (bir)