Pasalnya, Faisal melihat kekayaan negara masih dikuasai oleh sekelompok kecil orang yang dekat dengan kekuasaan. Sementara pendapatan orang miskin yang disebut BPS meningkat, masih sangat rentan anjlok kembali karena belum memiliki kepastian pendapatan.
Mengutip data BPS, Faisal menyebut perbaikan rasio gini Indonesia disebabkan oleh naiknya upah buruh tani dan buruh bangunan harian dan bertambahnya jumlah pekerja bebas di sektor pertanian dan non pertanian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya di saat mayoritas orang berpenghasilan minim di Indonesia masih bingung besok mau makan apa, kelompok orang kaya dan super kaya yang jumlahnya lebih sedikit justru terus memupuk kekayaannya karena kedekatan dengan penguasa.
Faisal menyodorkan data The Crony-capitalism Index yang dikutipnya dari The Economist. Indeks itu menyebut orang-orang kaya di Indonesia bisa menambah pundi kekayaan dengan mudah karena bisnis yang dijalankannya di sektor sumber daya alam, perbankan, minyak dan gas bumi, properti, sampai telekomunikasi didukung oleh penguasa.
Indonesia menempati peringkat ketujuh dalam indeks tersebut setelah Rusia, Malaysia, Filipina, Singapura, Ukraina, dan Meksiko.
“Pantas saja para saudagar kian banyak yang menyemut ke dalam kekuasaan dan menguasai pucuk pimpinan partai politik. Karena dengan begitu kenikmatan berbisnisnya terlindungi. Sektor-sektor kroni pada umumnya bersandar pada fasilitas dan konsesi dari penguasa. Banyak dari mereka tidak siap bersaing secara sehat,” tegas Faisal. (gen)