Semakin cepat PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melebur dengan PT Pertamina Gas (Pertagas) sebagai anak usaha PT Pertamina (Persero), manajemen perusahaan bisa mempersiapkan strategi bisnis guna mengoptimalkan proyeksi peningkatan permintaan gas ke depan.
Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, memperkirakan permintaan gas bumi untuk industri di Indonesia akan mulai meningkat sampai 2030 mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun jika mengutip kajian Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), permintaan gas domestik diperkirakan kembali naik mulai 2025 sampai 2.300 BBTUD. Pada tahun itu, pasokan gas domestik masih di level tinggi sebesar 3.700 BBTUD. Setelah 2025, permintaan gas domestik akan flat hingga 2030.
"Infrastruktur pipa akan sambung menyambung dan swasta cuma perlu sekali berkontrak sehingga administrasinya lebih cepat dan harga bisa lebih murah," kata dia.
Dalam Peta Jalan Kebijakan Gas Bumi Nasional 2014-2030 disebutkan, Indonesia butuh tambahan pasokan gas sebesar 3.000 BBTUD guna mencapai target Dewan Energi Nasional dalam Pemenuhan Kebutuhan Energi Nasional pada 2025 sebesar 8.249 BBTUD atau 20 persen Bauran Energi Nasional.
Komaidi menambahkan, pembentukan holding meningkatkan efisiensi karena akan ada penyatuan infrastruktur antara Pertamina dan PGN. Selain itu, dengan adanya lembaga baru nanti, penugasan akan lebih sederhana, salah satunya adalah persoalan keterbukaan akses, yang selama ini selalu bermasalah.
“Dengan adanya holding, persoalan itu akan selesai,” katanya. (gen)