Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan, perseroan akan melakukan kunjungan ke Arab Saudi pekan depan untuk melakukan finalisasi kerjasama.
Sampai saat ini, tawaran berbisnis avtur baru sebatas dilakukan di Bandara Internasional King Fahd, yang terletak di kota Dammam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melengkapi ucapan Luhut, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ahmad Bambang mengatakan, prospek bisnis avtur di Arab Saudi terbilang menjanjikan. Pasalnya, saat ini banyak sekali maskapai internasional yang melayani penerbangan ibadah Haji serta Umrah.
Dalam hal ini, Pertamina tidak bermitra dengan Saudi Aramco, melainkan dengan anak usahanya atau perusahaan yang ditunjuk oleh pemerintah Arab Saudi nantinya.
Ia melanjutkan, avtur yang dijual nantinya bersumber dari produksi Saudi Aramco. Menurutnya, tak hanya Pertamina saja yang diperlakukan seperti ini, karena kondisi tersebut sudah jadi peraturan di negara Timur Tengah itu.
"Semua pemain, termasuk Shell, juga sama. Harus beli avtur dari Terminal Aramco," tambahnya.
Kendati demikian, ia tak menyebut target penjualan avtur di Arab Saudi jika proyek ini terealisasi.
"Ini masih proses. Realisasinya kalau JV sudah selesai, kami masih harus dapatkan izin dari otoritas migas dan bandara. Sehingga, ini harus selesai terlebih dulu," pungkas Ahmad. (gen)