Jika Indonesia tidak cepat membangun infrastruktur LNG, maka kontrak-kontrak impor gas potensial bisa direbut negara lain.
Direktur Gas dan Energi Baru Terbarukan (EBT) PT Pertamina (Persero) Yenni Andayani menjelaskan, saat ini negara-negara Asia Tenggara lain sangat agresif dalam membangun infrastruktur LNG demi mempersiapkan diri menjadi negara importir gas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Indonesia harus agresif, melihat kesigapan Thailand, Vietnam, hingga Filipina. Kalau semua negara Asia Tenggara membangun infrastruktur gas dalam waktu bersamaan, maka untuk mendapatkan kontrak gas impor adalah hal yang perlu diperhatikan," ujar Yenni, kemarin.
Namun menurutnya, Indonesia tidak boleh mulai melakukan kontrak impor pada 2023 karena sudah banyak infrastruktur LNG di Asia Tenggara yang beroperasi. Menurut catatannya, negara-negara Asia Tenggara setidaknya sudah menyiapkan infrastruktur LNG dengan total kapasitas 70 juta ton per tahun (MTPA) pada 2023 mendatang.
"Dan Indonesia jangan mulai mengimpor sejak 2022 karena akan kehilangan momentum. Pasalnya, negara-negara Asia Tenggara sudah banyak mengoperasikan infrastruktur LNG di tahun itu, dan Indonesia harus amankan sumber energi mulai sekarang," katanya.
"Saya rasa FSRU perlu ditambah lagi di wilayah seperti Sumatera dan Jawa karena di situ sumber perkembangannya. Namun bukan berarti wilayah lainnya tak perlu, karena gas bukan hanya digunakan bagi industri dan listrik, namun juga kebutuhan lain seperti smelter," jelas Yenni.
Kendati demikian, ia menyadari pembangunan infrastruktur LNG bisa dilakukan di segala tempat.
"Tetap diperhatikan economic size di wilayah tersebut, kalau bagus kan bisa di-develop infrastrukturnya dan harga jualnya bisa lebih kompetitif," terang Yenni. (gen)