Vice President Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina, Daniel Purba menjelaskan, permintaan yang melonjak setelah Lebaran menyebabkan perseroan memutuskan untuk mengimpor lebih banyak pada bulan-bulan mendatang. Apalagi, ia menganggap produksi kilang Pertamina tak mampu memenuhi kebutuhannya.
Sebagai informasi, proporsi penjualan Pertamax terhadap total penjualan bensin Pertamina tercatat 15,5 persen per Juli 2016. Angka ini lebih besar dibanding angka Desember 2015 sebesar 8,7 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia melanjutkan, kenaikan impor Pertamax ini pun diiringi dengan rencana penurunan impor BBM jenis Premium. Pasalnya, penggunaan Premium di dalam negeri juga tengah menurun.
"Mungkin ini bisa disebabkan karena pengguna Premium pindah ke Pertamax. Pasalnya, konsumen ingin mendapatkan jenis kualitas bahan bakar yang lebih baik. Saya yakin setelah mereka coba Pertamax, mereka merasa lebih irit, tenaga lebih bagus, dan frekuensi perawatan motor dan mobil juga jadi tidak sering," tambahnya.
R
"Jadi total Pertamina bisa kurangi impor Premium sepanjang semester II ini bisa 3 juta barel per bulan," jelasnya.
Sebagai informasi, penjualan BBM Pertamina di tahun 2015 tercatat sebesar 61,63 juta kiloliter yang terdiri dari BBM subsidi sebesar 26,96 juta kl dan BBM non-subsidi sebesar 34,67 juta kiloliter. Angka itu menurun 5,62 persen dibandingkan konsumsi tahun 2014 yang tercatat sebesar 65,3 juta kiloliter. (gir)