Vice President Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina, Daniel Purba mengatakan, kebutuhan akan minyak impor terbilang penting, mengingat pasokan minyak mentah dari Wilayah Kerja (WK) Rokan, yang dioperatori PT Chevron Pacific Indonesia, tidak mampu lagi menyokong Dumai karena cadangannya mulai menurun.
Akibatnya, operasional kilang Dumai saat ini terbilang tidak maksimal. Dari kapasitas sebesar 120 ribu barel per hari, kapasitas terpasang kilang Dumai hanya sebesar 85 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia meneruskan, impor minyak mentah sudah bisa dilakukan karena tangki open access berkapasitas 600 ribu barel sudah dipasang di kompleks kilang Dumai.
"Karena ini crude jenis baru, jadi saya tidak hafal namanya apa. Tapi sampai sejauh ini, pasokan masih 100 persen dari Chevron, ini baru uji coba saja," jelas Daniel.
Ia menjelaskan, minyak mentah ini dipasok dari pasar spot. Meski kontrak impor baru dua bulan, namun ini bisa diteruskan dengan menimbang beberapa faktor.
"Dalam dua bulan ini tengah kami coba, apakah kualitas minyak impor ini setelah diolah di Dumai bisa menjadi bagus. Setelah itu, kami juga lihat dampak teknis ke teknologi kilangnya, karena ini kan baru pertama kalinya sejak kilang Dumai beroperasi," imbuhnya.
Sementara, kapasitas seluruh kilang Pertamina akan mencapai 2 juta barel per hari pada tahun 2023 seiring adanya penambahan kapasitas kilang Cilacap, Dumai, Balongan, dan Balikpapan dalam proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) dan dua tambahan kilang baru di Tuban, Jawa Timur dan Bontang, Kalimantan Timur. (gir)