"Dampaknya belum karena masih menunggu masing-masing daerah menurunkan BPHTB nya untuk DIRE," ucap Direktur Pengembangan BEI Nicky Hogan, Rabu (7/9).
Seperti diketahui, pemerintah telah memberikan insentif ke produk DIRE sejak paket ekonomi V yang diluncurkan 22 Oktober 2015. Namun, penegasan inesntif BPHTB baru terjadi pada rilis paket ekonomi XI pada 29 Maret 2016, dengan adanya pembahasan BPHTB.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masih dirasa tinggi kalau 5 persen itu, makanya kami juga berharap daerah menurunkan menjadi satu persen," ungkapnya.
Namun, Nicky mengemukakan ada satu perusahaan yang akan meluncurkan produk DIRE pada tahun ini. Hanya saja ia enggan menyebutkan perusahaan tersebut, juga nilai aset yang akan diterbitkan.
"Ada satu yang sudah di pipeline, prosesnya masih di bursa dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)," katanya.
Untuk asetnya sendiri, yang akan ditawarkan yakni aset Sinarmas di PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSD) atau bisa juga perusahaan lain. Meski masih belum pasti kapan instrumen ini diterbitkan, tetapi perusahaan menargetkan dana sebesar Rp500 miliar-Rp 1 triliun dari diterbitkannya instrumen DIRE.
“Mungkin perusahaan lain juga bisa, ada perusahaan di luar grup. Kami juga merencanakan di luar grup ada investasi DIRE. Target kami Rp500 miliar sampai Rp1 triliun,” ujar Presiden Direktur Sinarmas Asset Management Hermawan Hosein, beberapa waktu lalu.