Pasalnya, kebijakan pemerintah memperluas akses negara pemasok sapi tidak dibarengi dengan percepatan proses izin impor dari Kementerian Perdagangan (Kemendag).
"Kan peraturannya menyatakan setiap enam bulan sekali pemerintah mengeluarkan izin impor, berarti bulan Agustus lalu seharusnya kami sudah bisa impor. Tetapi sampai sekarang izin tak juga keluar dari Kemendag," ujar Ketua Aspidi Thomas Sembiring kepada CNNIndonesia.com, Rabu (7/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Prosesnya kami sudah ikuti, mulai dari minta rekomendasi dari Kementerian Pertanian, kemudian ajukan izin ke Mendag berdasarkan rekomendasi tersebut. Tapi ternyata tidak konsisten dengan kebijakannya," kata Thomas.
“Nyatanya, sudah dari bulan delapan izin kami masukkan, sampai detik ini tak juga keluar persetujuan Mendag,” keluh Thomas.
Keempat kebijakan tersebut meliputi upaya peningkatan populasi, pengembangan logistik dan distribusi, perbaikan tata niaga sapi dan daging sapi, penguatan kelembagaan melalui Sentra Peternakan Rakyat (SPR), serta memperluas akses negara pemasok sapi.
Tahun ini, pemerintah memperkirakan Indonesia membutuhkan 674,69 ribu daging atau setara dengan 3,9 juta ekor sapi. Namun, kapasitas produksi sapi peternak lokal hanya sebanyak 439,53 ribu ton per tahun, atau setara dengan 2,5 juta ekor sapi.
Dengan demikian, masih terdapat kekurangan pasokan sekitar 235,16 ribu ton yang pasokannya diupayakan dari luar negeri. (gen)