Dalam temuan itu, BNI diketahui mengucurkan pinjaman, antara lain senilai US$177,25 juta ke Rajawali Group melalui Eagle High Plantations untuk sektor minyak kelapa sawit, US$89,93 juta untuk Rajawali Group melalui BW Plantation, US$49,35 juta kepada Gozco Group melalui Golden Blossom Sumatra, dan US$400 ribu ke Barito Pacific Group yang bergerak dalam sektor usaha perkayuan.
Direktur Bisnis dan Korporasi BNI Herry Sidharta mengatakan, dalam mengucurkan kreditnya, BNI selalu menerapkan prinsip kehati-hatian sesuai dengan Undang-Undang dan aturan turunan yang berlaku. Upaya kehati-hatian tersebut salah satunya dengan mewajibkan para debitur korporasi untuk lolos uji Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sebelum membangun suatu proyek.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau bank-bank di Indonesia dalam menyalurkan kredit tidak tunduk dan patuh pada regulasi, tentunya sudah dapat teguran atau bahkan sanksi terlebih dahulu dari otoritas atau regulator (OJK)," ujar Herry kepada CNNIndonesia.com, Senin (12/9).
"Kalau perusahaan terbukti melakukan pelanggaran bank tidak akan meneruskan penyaluran pinjaman meski sudah masuk dalam committed loan," tegas Herry.
Royke menyebutkan, sebagai perusahaan yang berpegang teguh pada Good Corporate Governance (GCG) dalam menyalurkan kredit, Bank Mandiri telah menetapkan persyaratan yang sangat ketat, termasuk yang terkait dengan aspek legalitas dan GCG.
"Kalau terbukti bersalah secara hukum pasti kreditnya akan kami hentikan," kata Royke.
Menurut Royke, Bank Mandiri menyadari sepenuhnya bahwa permasalahan lingkungan hidup ini merupakan isu yang sensitif dan menjadi risiko dalam penyaluran pembiayaan. "Oleh karena itu, aspek legalitas, termasuk perizinan, menjadi perhatian utama dalam keputusan penyaluran pembiayaan," tutur Royke.
Untuk diketahui dalam laporan forestandfinance.org, Bank Mandiri disebut-sebut telah menyalurkan pinjaman paling sedikit US$370 juta kepada tiga perusahaan yang bergerak di bisnis minyak kelapa sawit, yakni Rajawali Group lewat Eagle Plantation, Perkebunan Nusantara Group, dan Tunas Baru Lampung. (bir)