Kepala Bappebti Bachrul Chairi mengungkapkan, penurunan ekspor lantaran kehadiran pemain baru, yaitu Myanmar, sejak dua tahun lalu. Kehadiran sumber baru tersebut, berdampak pada jumlah ekspor timah Indonesia.
"2016 ini faktor Myanmar masih ada ini, karena mereka baru masuk. Ini salah satu faktornya, yaitu sumber baru," ujar Bachrul di Bali, Senin (19/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai informasi, sekitar 80 persen kebutuhan dunia terhadap timah merupakan timah dari Indonesia. "Karena pasokan 70-80 persen timah dunia itu ya Indonesia. Mereka cari pemasok dong langsung, yaitu kita, Indonesia," terang dia.
Hingga saat ini, kawasan pertambangan masih berada di Bangka Belitung. Pemerintah Daerah (Pemda) dianjurkan untuk mulai berpikir mengenai penanggulangan reklamasi bekas lahan tambang tersebut.
"Setelah itu, makanya harus disiapkan apakah hasil tambang akan diinggalkan gitu saja atau dikembangkan menjadi pariwisata atau manufaktur. Jadi, 15 tahun ini lah waktu buat pemda berpikir untuk daerah itu apa," imbuh Bachrul.
Ia tak menampik jika dalam 15 tahun ke depan, Indonesia akan mulai melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan timah di dalam negeri. Namun, asal tahu saja, kebutuhan dalam negeri sendiri menurutnya masih terbilang sedikit, yakni hanya lima persen dari total produksi.
Secara terpisah, ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri menambahkan, pemerintah harus memanfaatkan jumlah timah yang ada saat ini dengan sebaik-baiknya. Ia mengingatkan, jangan sampai menyalahi peraturan pemerintah dalam mengekspor bahan baku dari komoditas tersebut.
"Oleh karena itu, menurut saya, kita manfaatkan sebaik baiknya. Jangan sampai timah itu tin ore (pasir timah) yang diekspor. Jadi, 15 tahun ke depan itu higher value added," katanya.
Dengan begitu, Indonesia akan memiliki peninggalan yang berarti dan nantinya dapat diolah, sehingga nilai jualnya dapat lebih tinggi. Terlebih lagi jika pabrik pengolah timah berkembang di Indonesia, maka hal tersebut turut membantu produksi bahan baku dari timah itu sendiri.
Saat ini, ekspor timah sendiri sudah dalam bentuk ingot timah. Ia sendiri berharap agar Indonesia tak lagi mengekspor bahan baku kemudian mengimpor barang jadi yang bahan bakunya berasal dari timah.
"Kan diimpor dari luar negeri. Timahnya dijual kemudian diolah sama Jepang dan Korea, terus diimpor ke Indonesia. Jadi missing middle," terang Faisal.
Sekadar informasi, penjualan timah ke luar negeri atau ekspor timah saat ini dilakukan lewat bursa berjangka di Indonesia yang dikelola oleh Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) sejak 2013. (bir/gen)