Endy mengungkapkan, penambahan modal akan dilakukan oleh tiga pemegang saham utama. Yakni, lembaga keuangan syariah multilateral Islamic Development Bank (IDB), beserta dua pemegang saham utama lainnya, yaitu Boubyan Bank Kuwait dan Atwill Holdings Limited.
"Pada dasarnya, proses konsolidasi sudah mendekati akhir. Jadi, memang atas dasar itu kami siap untuk bertumbuh dan pertumbuhan itu sudah mulai terlaksana. Pelan-pelan modal dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan," ujarnya, Selasa (20/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemegang saham lainnya mengempit kurang dari tiga persen kepemilikan bank pionir syariah tersebut, yaitu BMF Holdings Limited 2,84 persen, M. Rizal Ismael 2,34 persen, Koperasi Perkayuan Apkindo MPI 1,39 persen, Andre Mirza Hartawan 1,18 persen, BPDONHI 1,03 persen, serta masyarakat 6,64 persen.
Tak hanya itu, dengan tambahan modal baru perseroan juga membidik pertumbuhan bisnis dengan strategi baru. Dalam tiga tahun ke depan, Bank Muamalat berencana mengubah fokus portfolio bisnis perseroan dari segmen korporasi menjadi lebih banyak menggarap segmen konsumer dan ritel.
Saat ini, porsi bisnis korporasi Bank Muamalat mencapai 60 persen. Sementara sisanya, 40 persen menyebar ke segmen konsumer dan ritel. Pada 2019 nanti diharapkan porsi tersebut bisa berbalik.
"Dalam tiga tahun mendatang, target kami adalah kebalikannya. Jadi, 60 persen ke konsumer dan ritel, sedangkan sisanya korporasi. Kalau bisa malah 70 banding 30," terang Endy.
Ia menilai, jumlah penduduk Indonesia yang banyak menjadikan bisnis konsumer dan ritel menjadi lebih menarik di mata Bank Muamalat. Penyaluran pembiayaan rumah dengan prinsip syariah akan menjadi lini bisnis utama perseroan dalam menggarap pembiayaan konsumer dan ritel.
"Jadi, kami melihat market sangat besar, tapi itu juga bagian bank muamalat terhadap kebutuhan umat," pungkasnya. (bir/gen)