Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo mengatakan kenaikan NPL terjadi karena banyak perbankan yang cukup konservatif melakukan pemulihan likuiditasnya.
"Kami melihat ada beberapa bank yang cukup konservatif melakukan upaya penyehatan kualitas kreditnya dengan membangun unit khusus penyehatan kreditnya, dan ini adalah langkah yang baik," ujar Agus dalam konferensi pers, Kamis (22/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau AS tumbuh tidak seperti yang diharapkan, pertumbuhan global bisa turun lagi menjadi 2,9 persen, selain itu pertumbuhan ekonomi di China yang tahun ini diperkirakan 6,5 persen bisa turun ke 6,2 persen. Dan ini pasti berdampak ke dunia termasuk Indonesia," terang Agus.
Untuk menekan angka NPL yang terus merangkak naik, BI juga berupaya melonggarkan kebijakan makroprudensial. Salah satunya dengan melonggarkan uang muka alias down payment (DP) Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dari 20 persen ke 15 persen.
Dengan pelonggaran kebijakan makroprudensial, BI berharap akan berimbas kepada naiknya pertumbuhan ekonomi Indonesia. (gir)