"Mudah-mudahan minggu depan sudah closing dengan tenor 5 tahun, investornya sendiri berasal dari institusi seperti Dana Pensiun, Asuransi, Bank, dan BLU," ujar Trisnadi, Jumat (23/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga Juni 2016, jelasnya, SMF memiliki outsanding pinjaman sebesar Rp8,4 triliun dengan posisi surat utang mencapai Rp6,2 triliun. Penerbitan obligasi juga bertujuan mendongkrak kapasitas pembiayaan SMF yang setiap tahunnya rata-rata tumbuh hingga 20 persen.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama SMF Ananta Wiyogo mengatakan sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), SMF harus mampu membuat fasilitas KPR yang disalurkan melalui bank dan lembaga pembiayaan mampu dinikmati oleh masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Oleh sebab itu, BUMN yang bernaung di bawah Kementerian Keuangan itu mengharapkan suntikan modal pemerintah melalui skema penyertaan modal negara (PMN) guna menunjang program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang tengah bergulir.
"Untuk tahun depan kelihatannya kami direncakan komitmen kurang lebih Rp1 triliun untuk membantu program pemerintah FLPP," jelas Ananta.
Hingga Juni 2016 posisi ekuitas perusahaan telah mencapai Rp5,3 triliun. Jumlah ini melonjak 77 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yakni Rp4,09 triliun. (ags)