Tidak cuma itu, bahkan pencapaian bank asing tersebut jauh di bawah harapan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang membidik pertumbuhan bank umum bisa double digit. Namun demikian, belum ada bank-bank yang merevisi target.
"Secara resmi, bank-bank belum mengajukan adanya perubahan target kredit dari Rencana Bisnis Bank (RBB)," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Bank OJK Nelson Tampubolon kepada CNNIndonesia.com, Jumat (30/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Citibank membukukan penurunan kredit 2,72 persen atau menjadi Rp40,35 triliun pada Juli 2016. Sementara, penyaluran kredit HSBC anjlok 22,4 persen menjadi Rp49,97 triliun, dan kredit Standard Chartered melorot 17,6 persen menjadi Rp24,66 triliun.
"Kami melihat, ada penurunan kredit dan ini umum untuk semua perbankan. Data terakhir untuk pertumbuhan sektor perbankan masih di bawah 10 persen. Jadi, memang korporasi wait and see," ujarnya, belum lama ini.
Hingga paruh pertama tahun ini, sambung Batara, nasabah individu maupun korporasi lebih banyak memanfaatkan fasilitas pembiayaan ulang (refinancing) ketimbang menarik kredit baru. Fasilitas refinancing diyakini mampu mengoptimalkan beban keuangan perusahaan di tengah lesunya bisnis.
"Jadi, belum ada new money (kredit baru) untuk kredit modal kerja atau kredit investasi," kata dia.
Melihat kondisi ini, pertumbuhan kredit bank yang bermarkas di Amerika Serikat tersebut kemungkinan sejalan dengan prediksi Bank Indonesia (BI) yang meramalkan pertumbuhan kredit bank umum hanya akan berkisar 7-9 persen hingga akhir tahun nanti. (bir/gen)