"Cuaca buruk mengakibatkan suplai cabai merah mengalami penurunan," tutur Kepala BPS Suhariyanto di Kantor Pusat BPS, Senin (3/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika dirinci menurut komponen, inflasi inti bulan lalu tercatat sebesar 0,33 persen. Selanjutnya, inflasi harga diatur pemerintah 0,14 persen, sedangkan komponen harga bergejolak mengalami deflasi sebesar 0,09 persen.
"Kenaikan tarif pulsa ponsel disebabkan oleh adanya perubahan rata-rata tarif panggilan dan tarif SMS," ujarnya.
Berikutnya, biaya sewa rumah juga menyumbang inflasi bulan lalu sebesar 0,53 persen. Penyebabnya yaitu kenaikan harga bahan bangunan di beberapa daerah di Indonesia dan kenaikan biaya perawatan.
Sementara itu, biaya akademi atau perguruan tinggi juga mengalami kenaikan akibat masuknya tahun ajaran baru dan menciptakan inflasi sebesar 1,79 persen.
Dari sisi harga yang diatur pemerintah (administered price), harga rokok khususnya rokok kretek filter mengalami kenaikan sebesar 1 persen.
Adanya wacana kenaikan harga rokok dan tembakau mempengaruhi keputusan penjual untuk menaikkan harga dan spekulasi konsumen sejak Agustus 2016. Sebanyak 59 kota mencacat adanya kenaikan harga rokok.
Selain rokok, komponen tarif listrik juga memberikan andil pada inflasi. Tercacat, bulan lalu, tarif listrik mengalami inflasi sebesar 0,55 persen.
Penyebabnya, tarif listrik prabayar 1300 VoltAmpere (VA) ke atas pada bulan September 2016 mengalami kenaikan sebesar 3,38 persen. Sementara, tarif listrik pasca bayar 1300 VA ke atas mengalami penurunan 0,18 persen.
Di sisi lain, beberapa faktor penghambat inflasi yaitu harga telur ayam ras, tarif angkutan udara, harga daginh ayam ras, wortel dan cabai rawit. (ags/gen)