Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menyebut saat ini beberapa indikator makro tengah menunjukan perbaikan. Nilai tukar rupiah yang stabil dan cenderung menguat serta tingkat inflasi yang rendah dan terkendali dinilai menjadi sentimen positif untuk mendongkrak daya beli masyarakat dan perencanaan bisnis ke depannya.
"Kalau situasi ini aman terus terkendali terus. Harusnya kredit bisa tumbuh lagi dalam enam bulan mendatang. Itu bisnis siklus dan perbankan yang normal," ujar Mirza dalam seminar, Kamis (6/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kinerja tersebut melambat dibandingkan posisi Juli yang masih tumbuh 7,6 persen secara tahunan. Sementara pertumbuhan sepanjang tahun (year to date) pertumbuhan kredit hanya mencapai 2,8 persen. Berkurangnya permintaan kredit dengan denominasi valuta asing dinilai menjadi penyebab turunnya permintaan kredit secara nasional.
Tahun ini, BI memprediksi The Fed hanya akan menaikkan Fed Rate satu kali pada akhir tahun nanti.
Tahun 2017 pun diproyeksi menjadi peluang bagi Indonesia untuk melanjutkan pemulihan (recovery) ekonomi. Dengan latarbelakang optimisme tersebut bank sentral memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun depan bisa mencapai angka 5,1-5,5 persen. (gir)