Dalam laporan Regional Economic Outlook Update (REO Update) Asia dan Pasifik per Oktober 2016, prospek jangka pendek di Asia dinilai tetap kuat, karena didukung oleh permintaan domestik. Namun, risiko global dan lokal masih membayangi pertumbuhan.
"Asia menyumbang sekitar 60 persen untuk pertumbuhan global saat ini. Namun prospeknya dapat terbebani oleh transisi pertumbuhan lebih lambat China dan pemulihan global yang tidak merata," kata Changyong Rhee, Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF, Jumat (6/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rhee menilai kebijakan dalam negeri sebagian besar telah didukung pertumbuhan, dengan suku bunga rendah dan stimulus fiskal di banyak negara. Sementara ekspor Asia bakal memberikan dukungan pertumbuhan global, yang diperkirakan akan pulih pada tahun 2017.
"Pertumbuhan ekonomi di Indonesia diprediksi membaik pada tahun 2016 dan 2017. Tumbuh 4,9 dan 5,3 persen masing-masing. Sementara di Malaysia, perbaikan pertumbuhan hanya diproyeksikan pada tahun 2017. Hambatan dari ekspor juga diharapkan berkurang karena harga komoditas telah sedikit pulih," jelasnya.
Di Singapura, pertumbuhan ekonomi diproyeksi naik tipis pada tahun 2017 menjadi 2,2 persen sebagai investasi swasta diperkirakan akan pulih lebih lanjut. Di Thailand, investasi publik terdorong kenaikan bertahap konsumsi swasta. Sementara sektor pariwisata diharapkan tetap menjadi motor pertumbuhan.
Dalam jangka menengah, sejumlah negara Asia mendapatkan keuntungan dari bonus demografi. Penduduk usia kerja di beberapa negara, yaitu India dan Indonesia, terus berkembang, berpotensi membantu mempertahankan pertumbuhan yang kuat. (gir/ags)