Sementara, indeks saham acuan S&P 500 berakhir nyaris lebih tinggi saat imbal hasil treasury AS naik ke level tertinggi dalam tiga minggu karena investor memasang posisi jelang laporan tenaga kerja AS yang akan dirilis pada hari Jumat.
Seperti dilansir dari Reuters, data awal pada Kamis menunjukkan jumlah orang Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran secara tak terduga turun minggu lalu, mendekati level terendah dalam 43 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nilai tukar dolar AS naik ke angka tertinggi terhadap yen dalam sebulan, dan menguat terhadap poundsterling dalam tiga dekade, di tengah kekhawatiran keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Terhadap sekeranjang mata uang, mata uang Negeri Paman Sam itu naik 0,6 persen.
Menurut CME FedWatch, pelaku pasar bertaruh 64 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan Desember, naik sedikit dari hari sebelumnya.
"Jika Anda melihat data ekonomi selama sebulan terakhir, cukup banyak yang lebih baik. Dan dalam beberapa hal lebih baik dari ekspektasi. Semua data tampaknya akan mendorong The Fed untuk bergerak," kata Walter Todd, kepala investasi Greenwood Capital Associates.
Di pasar saham AS, indeks Dow Jones Industrial Average turun 12,53 poin atau 0,07 persen ke level 18.268,5 dan indeks S&P 500 naik 1,04 poin atau 0,05 persen ke 2.160,77. Sementara indeks Nasdaq Composite turun 9,17 poin atau 0,17 persen ke level 5.306,85.
Saham Apple menguat, didukung oleh optimisme tentang iPhone, berbeda dengan saham Wal-Mart Stores, yang terkena imbas ekspektasi kinerja keuangan buruk.
Harga minyak Brent ditutup naik 1,3 persen pada US$52,51 per barel. Sementara harga minyak WTI ditutup naik 1,2 persen pada ke US$50,44 per barel, melampaui US$50 untuk pertama kalinya sejak Juni.
"Fakta bahwa harga minyak mentah berada di sekitar US$50 saya pikir adalah positif untuk pasar saham. Itu mungkin konfirmasi lain yang memberikan nada positif terhadap aktivitas ekonomi masa depan," kata Chuck Carlson, CEO Horizon Investment Services di Hammond, Indiana.