Deputi Bidang Pengendalian, Pelaksanaan, dan Penanaman Modal BKPM Azhar Lubis memastikan, target ini akan tercapai. Pasalnya, sebanyak 50 persen lebih dari target sudah dikantongi BKPM.
“Kami yakin target invetasi bisa terpenuhi. Selama semester I 2016 sudah Rp280 triliun dari target Rp594 triliun. Itu sudah 50 persen lebih," ungkap Azhar di kantornya, Senin (10/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dibandingkan kuartal III tahun lalu, tahun ini naik 10 persen sampai 12 persen," imbuh Azhar.
"Optimis karena ada keberhasilan dari tax amnesty yang memberikan gairah baru. Ini membuat orang yang punya uang jadi tidak takut untuk investasi di Indonesia," imbuh Azhar.
Tak hanya itu, sekali pun pemerintah memangkas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2016, pemerintah tetap memberikan jaminan bahwa proyek infrastruktur selamat dari pemotongan anggaran dua kali yang dilakukan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
"Itu sinyal ke dunia usaha kalau pemerintah serius membangun infrastruktur. Kami harap dengan komitmen pemerintah bisa membuat investor percaya," tambahnya.
Sementara dari BKPM sendiri, kata Azhar, program Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) masih efektif penerapannya, yang berdampak pada semakin mudahnya penanaman investasi di Indonesia.
Investasi Australia
Azhar menambahkan, keoptimisannya bertambah karena BKPM baru saja mencatat suntikan investasi sekitar Rp16,9 triliun untuk pembangunan kawasan industri di Teluk Naga, Banten.
Investasi ini merupakan hasil kerja sama antara PT Banten Global Development (BGD) dengan Australia Indonesia Business Council (AIBC).
"Dalam lima tahun terakhir, total investasi dari Australia mencapai US$2,1 miliar. Kontribusinya 1,4 persen dari total investasi yang masuk ke Indonesia," katanya.
Kontribusi ini menempatkan Australia sebagai negara peringkat ke-12 dalam hal penanaman modal di Indonesia.
Sebagai informasi, hasil realisasi investor Australia masuk sebanyak 42 persen ke sektor pertambangan, 39 persen ke sektor kimia dan farmasi, dan 5 persen ke sektor kelistrikan, gas, dan air.
"Untuk sasaran wilayah, investasi tersebut menyasar ke luar Pulau Jawa, seperti Kalimantan dan Nusa Tenggara," tutupnya. (bir/gen)