Hal tersebut menurut Kepala Kampanye Jatam Melky Nahar bisa dilihat dari arah kebijakan relaksasi ekspor bahan galian tambang mulai 2017, yang dinilai menguntungkan Freeport. Pasalnya, perusahaan tersebut tak perlu menyelesaikan pembangunan fasilitas pemurnian (smelter) hasil tambang menjelang Kontrak Karya (KK) selesai sebagai syarat mengapalkan hasil produksinya ke luar negeri.
Melky menyesalkan ketidaktegasan pemerintah terhadap komitmen Freeport dalam membangun smelter. Berkaca pada pengalaman sebelumnya, ia yakin janji Freeport membangun smelter tidak akan terealisasi setelah relaksasi dimulai. Bahkan sampai perusahaan memperoleh perpanjangan KK yang akan berakhir di 2021.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka menanyakan, masalah kontrak ini bagaimana? Apakah masih dijamin? Karena kalau mereka membuat smelter sekarang, masa manfaatnya hanya sebentar kalau KK tak diperpanjang," ujar Bambang, beberapa waktu lalu.
Pada bulan Juli tahun lalu, Freeport menyatakan kemajuan smelter Gresik telah mencapai 11,5 persen. Sementara itu pada bulan lalu, Pelaksana Tugas (Plt) Menteri ESDM Luhut Binsar Pandjaitan menyebut bahwa kemajuan smelter tercatat 14 persen per Juli 2016. Dengan demikian, maka kemajuan pembangunan smelter Freeport hanya 2,5 persen dalam setahun belakangan. (gen)