Sekretaris Perusahaan PTBA Adib Ubaidillah menerangkan, penambahan produksi sebetulnya sudah diinginkan perusahaan sejak tahun ini seiring harga batubara yang semakin memanas. Melihat data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Harga Batubara Acuan (HBA) pada bulan Oktober tercatat US$69,07 per ton, atau naik 8,04 persen dari bulan sebelumnya US$63,93 per ton.
Namun, perusahaan harus mengurungkan niat karena pelaksanaan produksi harus sesuai dengan rencana kerja perusahaan yang disodorkan ke regulator di awal tahun. Selain itu, kapasitas fasilitas pengangkutan kereta api pun tak bisa menampung batubara apabila perusahaan memaksakan untuk menggenjot produksinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau untuk tahun ini, mungkin penambahan produksi tidak bisa dilakukan karena sudah di-setting sejak awal tahun. Namun, pada tahun depan kami memiliki rencana untuk meningkatkan produksi sebesar 25 persen dari angka saat ini," ujar Adib kepada CNNIndonesia.com, kemarin.
"Kalau infrastruktur sudah bisa di akhir tahun, maka peningkatan produksi juga bisa dilakukan tahun depan," tuturnya.
"Apalagi saat ini cadangan kami terbilang bisa bertahan hingga 100 tahun, dengan asumsi produksi kami mencapai 30 juta ton per tahun," pungkasnya.
Sebagai informasi, rencana produksi tahun ini sebesar 25,75 juta ton terbilang meningkat 34 persen dibandingkan realisasi tahun lalu sebesar 19,24 juta ton. Adapun hingga Agustus, produksi perusahaan mencapai 11,3 juta ton, atau 43,88 persen dari target hingga akhir tahun.
Sedangkan pada 2020, PTBA berencana untuk menambah produksi hingga 60 juta ton per tahun.
Saat ini, cadangan batu bara yang bisa ditambang (mineable reserve) terbilang 3,3 miliar ton yang terdapat di lahan Izin Usaha Produksi (IUP) seluas 93 ribu hektare.