Direktur Keuangan William Surnata menyatakan, pihaknya akan melakukan pengeboran secepat mungkin agar bisa segera memulai produksi. Untuk mencapai hal tersebut, perusahaan akan menyewa hingga enam alat bor.
"Kami sudah mulai bor awal bulan ini, rencananya kami akan bor secepat mungkin, kami mau produksi, kami sewa ada enam alat bor," ucap William.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pabrik sudah ada, wilayahnya nempel. Kalau nempel kan hanya ngebor aja kan, alat beratnya sudah ada semua," jelasnya.
"Pembebasan lahan yang masih dilakukan, pokoknya kami menguasai lahan cukup besar lah, tapi kami nggak bisa bor sekaligus, bertahap," ungkapnya.
William melanjutkan, lahan tambang di Pani memiliki potensi yang terbilang cukup besar. Untuk tahap awal, perusahaan akan membangun pabrik dengan kapasitas 20 ribu ounces pertahun. Namun, jika hasil bor banyak, maka perusahaan akan menambah kapasitas hingga 80 ribu - 100 ribu ounces per tahun.
"Kalau dari hasil bor banyak, nanti kami besarin sekalian, kalau enggak, ya kami bikin medium. Tapi yang jelas enggak seperti sekarang," ujarnya.
Asal tahu saja, perusahaan memutuskan untuk menyegerakan pengeboran agar jumlah cadangan emas dapat bertambah. Jumlah cadangan terbukti (reserves) hingga akhir tahun lalu yakni sekitar dua juta ounces, sedangkan cadangan keseluruhan (resources) sebanyak enam juta ounces. William memprediksi reserves hingga akhir tahun dapat memcapai 2,5 juta ounces.
"Berarti dengan produksi seperti ini kami punya life of mine lebih dari 10 tahun. Produksi kami kan 200 ribuan ounces per tahun, dengan akhir tahun ini misal punya reserve 2,5 juta ounces per tahun berarti kan lebih dari 10 tahun karena cuma 200 ribuan ounces. Ini untuk mendorong kekuatan dari perusahaan sendiri," katanya.
Adapun, dengan kenaikan harga komoditas emas saat ini dengan rata-rata Rp1.251 per ouncez maka perusahaan memutuskan untuk menahan produksinya agar perusahaan dapat bertahan hidup lebih lama. Awalnya perusahaan menargetkan dapat memproduksi 221 ribu ouncez per tahun tapi kini perusahaan akan menurunkan target tersebut untuk menyesuaikan dengan pendapatan.
"Tahun lalu emas itu harganya Rp1.165 per ounces rata-rata, nah tahun ini rata-rata Rp1.251 per ounces. Kalau kami produksi tetap sama, nanti pendapatan berlebihan. Nah kami kan harus berpikir panjang dong, ngapain abis-abisin manfaatin harga yang lagi tinggi, tapi nanti cepat habis," paparnya.
"Yang kami tekankan betul itu mempertahankan EBITDA di US$130 juta. Dengan jagain EBITDA, maka memperlihatkan ke publik kalau kami konsisten. Itu penting untuk menunjukkan bahwa perusahaan ini tidak naik turun," pungkasnya.