Ketua APB3I, Erry Sofyan mengatakan saat ini tidak terdapat industri yang siap untuk menyerap produksi bauksit. Sementara, pembangunan pabrik pemurnian bauksit berbeda dengan mineral lain pada umumnya.
“Kajian APB3I menemukan beberapa kendala untuk membangun pabrik pemurnian bauksit, di antaranya adalah pembiayaan yang sangat besar, mencapai triliunan rupiah, teknologi yang belum dipunyai oleh Indonesia dan sumber daya manusia yang masih perlu dilatih,” ujarnya, Jumat (14/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Hal ini terbukti dengan satu-satunya realisasi pabrik pemurnian bauksit milik PT Well Harvest Winning di Kendawangan, Ketapang, Kalimantan Barat yang mayoritas dikuasai asing, baik saham, teknologi, maupun SDM-nya,” jelas Erry.
“Banyak pihak yang tidak memahami bahwa membuat 1 ton alumina selain dibutuhkan bauksit juga dibutuhkan caustic soda, energi, mesin dan lainnya. Total biayanya sekitar US$300-US$350 per ton. Padahal harga jual alumnia 10 tahun terakhir rata-rata US$300-US$320 per ton,” jelasnya.
Menurutnya, hilirisasi sebenarnya baik karena dapat meningkatkan nilai tambah. Namun, Peng Tjoan menyatakan hal itu jangan retorika semata, tetapi harus dikaji perhitungan ekonominya.
“Kita harus realistis, jangan hanya idealis saja. Jangan coba melawan hukum ekonomi,” kata Peng Tjoan. (ags)