Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK Edy Setiadi bilang, regulator dan pelaku usaha harus lebih sering melakukan edukasi. Pasalnya, banyak masyarakat yang sebetulnya mampu, tapi menilai asuransi tidak penting dan mahal.
Insurance Day atau Hari Asuransi yang diperingati setiap 18 Oktober menjadi salah satu sarana mengedukasi masyarakat. Perhelatan tahunan ini diselenggarakan oleh Dewan Asuransi Indonesia (DAI) bersama enam asosiasi asuransi dan anggotanya. Acara ini merupakan ke-11 kalinya sejak digongkan tahun 2006 silam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu sebelum adanya Hari Asuransi penetrasi asuransi di masyarakat hanya mencapai 2 persen dan itu pun susah sekali," ujar Edy dalam konferensi pers Hari Asuransi di kantor pusat Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Senin (17/10).
"Asuransi mikro, misalnya. Pemasaran asuransi mikro kan dapat dilakukan intermediari. Katakan setiap satu kelompok terdapat anggota 10 sampai 30, bayangkan berapa premi yang bisa diambil dari situ," jelasnya.
Pada kesempatan yang sama Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia (DAI) Hendrisman Rahim mengatakan, masih besarnya jumlah masyarakat yang belum memahami dan memiliki asuransi menjadi evaluasi bagi para pelaku bisnis asuransi. Karenanya, Hendrisman berharap, sosialisasi berkelanjutan bisa dilakukan oleh seluruh insan pelaku asuransi.
"Kami DAI siap untuk dioptimalkan untuk mencapai target 75 persen utilisasi di 2020, bagaimanapun juga pertumbuhan asuransi termasuk juga dengan pertumbuhan inklusi keuangan," tutur Hendrisman. (bir)