Seperti diketahui, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia kemarin memutuskan untuk memotong suku bunga acuan BI 7-day repo rate sebesar 25 basis point menjadi 4,75 persen. Hal itu dilakukan untuk mendorong pertumbuhan kredit yang pada akhirnya akan menopang pertumbuhan ekonomi lebih tinggi ke depan.
"Dengan langkah yang diambil BI hari ini, kami meyakini, ruang bagi pelonggaran moneter masih akan berlanjut hingga akhir 2017," ungkap Ekonom Bahana Securities Fakhrul Fulvian, Kamis (20/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahana memperkirakan inflasi pada tahun ini akan berada di level 3,3 persen, sejalan dengan Bank Indonesia yang memperkirakan inflasi pada tahun ini akan mendekati batas bawah target sasaran inflasi antara 3 persen hingga 5 persen.
Bank Indonesia, dalam statementnya menyatakan, pemulihan ekonomi di Eropa dan India diperkirakan tumbuh lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, walaupun ekonomi Amerika diperkirakan tumbuh lebih lambat daripada yang diekspektasikan.
"Untuk yang pertama kali setelah beberapa kali RDG, BI menyinggung tentang positifnya perkembangan pertumbuhan di India, ini menandakan adanya beberapa hal positif yang mulai terbangun," kata Fakhrul.
"Hal ini menunjukkan sesungguhnya ada optimisme yang tengah terbangun dalam perekonomian," imbuhnya.
Data IMF pada Juni 2016 menunjukkan total nilai perdagangan dunia hanya melambat sebesar 3,95 persen secara tahunan, lebih baik dibandingkan posisi Desember 2015 yang melambat sebesar 13,3 persen secara tahunan. Sementara itu, volume perdagangan dunia melambat 3,4 persen secara tahunan, membaik dari posisi Desember yang melambat sebesar 11,4 persen. (gir/gen)