Dengan demikian sepanjang tahun ini, BI sudah enam kali menurunkan suku bunga acuan dengan akumulasi besaran 150 basis poin.
"BI meyakini pelonggaran tersebut sejalan dengan stabilitas makroekonomi khususnya inflasi yang diperkirakan mendekati batas bawah dari kisaran sasaran, defisit transaksi berjalan yang lebih baik dari perkiraan, surplus neraca pembayaran yang lebih besar, dan nilai tukar yang relatif stabil," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara dalam konferensi pers, Kamis (20/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Neraca pembayaran Indonesia diperkirakan akan mencatat surplus yang baik, defisit transaksi berjalan diprediksi berada di bawah 2 persen dari PDB terutama didukung oleh surplus neraca perdagangan sejalan dengan membaiknya harga ekspor komoditas primer dan menurunnya impor nonmigas.
Sementara dari kondisi nilai tukar, BI mencatat mata uang rupiah tetap stabil dengan kecenderungan menguat. Nilai tukar Rupiah pada September 2016, secara rata-rata, terapresiasi sebesar 0,41 persen dan mencapai level Rp 13.110 per dolar AS. Penguatan tersebut berlanjut dan pada minggu ketiga Oktober 2016 ditutup pada level Rp 13.005 per dolar AS.
"BI meyakini pelonggaran kebijakan moneter dan prudensial dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kedepannya," ujarnya. (gen)