Menurut Direktur Utama Semen Baturaja Pamudji Rahardjo, angka tersebut melebihi pertumbuhan kenaikan penjualan semen secara nasional yang masih berada pada angka 2,9 persen sejak awal tahun. Padahal, target pertumbuhan penjualan semen sendiri hingga akhir tahun adalah 5 hingga 6 persen.
"Jadi memang ini berat, harus ada peningkatan pada tiga bulan terakhir ini," ucap Pamudji, Kamis (20/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, target penjualan semen secara nasional mencapai 65 juta ton hingga akhir tahun. Sementara, hingga akhir September angka penjualan semen baru menyentuh sekitar 40 juta. Maka tak heran jika perusahaan berkode SMBR ini telah menurunkan harga semennya dua sampai tiga persen jika dibandingkan tahun lalu.
Pabrik tersebut ditargetkan dapat beroperasi tahun depan. Pramudji menjelaskan, pabrik Baturaja II dibangun dengan nilai investasi sekitar Rp3,3 triliun, di mana perusahaan menggunakan dana hasil raupan penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) sebesar Rp1,2 triliun dan dana internal sebesar Rp1 triliun. Sementara, sisanya menggunakan pinjaman bank.
"Sudah tanda tangan kontrak dan sudah tarik sebagian," imbuhnya.
Adapun, laba bersih Semen Baturaja pada semester I 2016 turun 38,83 persen atau menjadi Rp102,5 miliar jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp167,59 miliar. Hal ini disebabkan turunnya laba kotor perusahaan menjadi Rp194,28 miliar atau turun 7,75 persen dari Rp209,35 miliar. Namun, penjualan pokok perusahaan tumbuh tipis 2,62 persen menjadi Rp651,93 miliar dari sebelumnya Rp635,23 miliar.
Penjualan Semen Baturaja terdiri dari semen sak dan semen curah. Penjualan semen sak pada semester I 2016 dan semester I 2015 masing-masing sebesar Rp443,77 miliar dan Rp356,68 miliar, sedangkan semen curah yaitu Rp205,03 miliar dan Rp278,55 miliar.