Menurut Wiratmaja, rata-rata harga gas di Indonesia dibanderol US$8,3 per MMBTU sampai ke tangan konsumen. Terdiri dari US$5,9 per MMBTU di hulu, plus biaya transisi US$0,9 per MMBTU dan ongkos distribusi US$1,5 per MMBTU.
“Indonesia menggunakan sistem keekonomian di hulu atau fix price dengan eskalasi. Tidak heran terjadi anomali di Indonesia, di mana harga LNG lebih murah dibanding harga gas pipa,” kata Wiratmaja, Senin (24/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Oleh karena itu, hal ini perlu dibahas lebih lanjut. Karena pada saat kita membangun sistem fix price dalam menentukan harga gas pipa, tidak dibayangkan harga minyak akan turun sebegitu drastis,” ujarnya.
“Malaysia masih menggunakan skema subsidi. Di mana, bagian untuk negaranya tidak diambil dan dipakai sebagai subsidi,” jelasnya.
Sementara Thailand menjual gasnya dengan rata-rata US$7,5 per MMBTU, terdiri dari harga di hulu US$ 5,5 per MMBTU, transmisi US$ 0,8 per MMBTU dan distribusi US$ 1,2 per MMBTU.
Negara gajah putih itu disebut Wirat mengaitkan harga jual gas dengan harga minyak dunia.
“Thailand karena dia sebagian besar gasnya impor, di-link ke harga minyak. Kalau harga minyak tinggi, harga gas tinggi. Kalau harga minyak turun, harga gasnya turun,” papar Wirat. (gen)