Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmaja, kali ini berani memastikan wacana impor LNG baru bisa dilakukan 2019 nanti. Saat neraca gas Indonesia mengalami defisit.
Menurut Wiratmaja, masih banyaknya produksi LNG dari dalam negeri yang belum terjual (uncommited cargo) menjadi alasan impor LNG tidak akan dilakukan dalam waktu dekat. Bahkan tahun depan, pemerintah memperkirakan jumlah kargo LNG yang belum terjual melonjak jadi 63 kargo dari angka sementara saat ini 18 kargo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sehingga kami belum akan memberi izin untuk impor karena akan ada oversupply. 2019 mungkin akan impor, karena kan dari balance akan defisit," ujar Wiratmaja saat ditemui di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Kamis (20/10).
Di samping itu, ia meramal jumlah LNG yang tidak terjual akan mencapai puncaknya di angka 60 kargo pada 2018. Lemahnya penyerapan itu, lanjut Wiratmaja, berasal dari produksi Bontang dan Tangguh.
"Kenapa angkanya masih sama di tahun 2018, karena kami masih perlu cari pembeli. Kami harapkan pembelinya merupakan pembeli existed. Sementara untuk pasokan listrik sudah aman semuanya," ujarnya.
"Selain itu, sebenarnya ini bukan masalah infrastruktur juga, karena regasifikasi dan jaringan akan diutilisasi penuh ketika ada pembelinya. Tapi kalau produksinya dipotong, sayang saja," jelas Wiratmaja.
Menurut data Kementerian ESDM, defisit LNG diramalkan sebanyak 27 kargo di tahun 2019. Angka ini akan bertambah menjadi 90 kargo di tahun 2024 dan 101 kargo di tahun 2025 akibat masuknya produksi gas dari blok Masela. Untuk menyerap kelebihan produksi gas tersebut, Kementerian ESDM menyatakan pemerintah membutuhkan US$48,2 miliar untuk membangun lebih banyak infrastruktur yang akan mendorong pertumbuhan industri penyerap gas tersebut.
Catatan redaksi:
Terdapat klarifikasi dari Kementerian ESDM atas judul berita ini sebelumnya, yaitu 'Jonan Mentahkan Wacana Impor LNG untuk Tekan Harga Gas' yang dipublikasikan CNNIndonesia.com pada tanggal 20 Oktober 2016 lalu. Untuk menghindari terjadi salah pengertian di masyarakat luas, redaksi merevisi judul tersebut. (gen)