Direktur Utama BRI Asmawi Syam mencatat penyaluran kredit bank pelat merah yang dipimpinnya mengalami pertumbuhan berkat meningkatnya pertumbuhan di segmen mikro.
BRI telah menyalurkan kredit sebesar Rp603,5 triliun atau naik 16,3 persen dari periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini melampaui rata-rata pertumbuhan industri yang hanya mencapai 6,8 persen (per Agustus 2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BRI juga mampu menambah basis nasabah pinjaman baru di segmen tersebut sebanyak 1 juta dari 7,6 juta menjadi 8,6 juta nasabah selama kuartal III.
Hal lain yang menopang kinerja BRI sepanjang Januari-September 2016 adalah pendapatan bunga atau Net Interest Income (NII) yang mencapai Rp48,6 triliun atau tumbuh 16,8 persen year on year (yoy). Serta perolehan pendapatan berbasis komisi (fee based income) yang mencapai Rp6,6 triliun atau tumbuh 25,9 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Peningkatan fee based income tersebut didominasi oleh tambahan fee yang berasal dari jasa administrasi kredit sebesar 113,6 persen yoy menjadi Rp740 miliar kemudian diikuti oleh fee trade finance yang tumbuh 58,8 persen yoy menjadi Rp614 miliar, fee e-banking sebesar Rp1,6 triliun atau tumbuh 42,2 persen yoy dan fee yang berasal dari jasa kegiatan perbankan lainnya.
Tambah Pencadangan
Berkaca dari kinerja yang tumbuh di atas rata-rata industri, Asmawi optimistis BRI mampu mencetak pertumbuhan kredit dua digit hingga akhir tahun. Ia memproyeksikan pertumbuhan tahun ini bisa mencapai kisaran 13-14 persen atau tumbuh di atas proyeksi bank sentral dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Kendati demikian, Wakil Direktur BRI Sunarso menilai risiko perlambatan ekonomi hingga akhir tahun tetap harus diantisipasi. Meski mampu menekan rasio kredit bermasalah (NPL) gross ke level 2,2 persen, BRI tetap memasang strategi konservatif hingga akhir tahun.
BRI justru menaikkan rasio pencadangan dari 150 persen menjadi 166 persen dengan total Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) sebesar Rp22,3 triliun hingga akhir tahun. Pencadangan tersbeut dirasa cukup untuk mengatasi kenaikkan NPL di tengah tren perlambatan kredit.
"Kami menilai cuaca belum begitu baik, oleh sebab itu kita sediakan payung sebelum terjadi apa-apa," ujarnya.