Menurutnya, ketidaktepatan perencanaan belanja dan penetapan target penerimaan negara menjadi persoalan yang harus diperbaiki dan tidak boleh lagi terulang di masa depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Periode pertama tax amnesty kita selesaikan dan kami tetap fokus ke periode kedua. Penerimaan pajak harus dan perlu ditingkatkan rasionya karena masih kita terendah di regional dan negara-negara middle class. Reformasi perpajakan menjadi sangat penting," jelas Sri Mulyani.
Kendati sudah dibantu tax amnesty, ia tetap berpendapat penerimaan pajak yang sifatnya rutin tetap harus digenjot guna menimialkan shortfall.
Sementara dari sisi belanja negara, Menkeu menekankan pentingnya penghematan anggaran. Namun, efisiensi tersebut jangan sampai menganggu alokasi belanja modal, terutama yang diperuntukan bagi proyek-proyek infrastruktur prioritas pemerintah.
"Pengeluaran infrastruktur dua tahun terakhir Rp177,9 triliun, tapi kemudian melonjak menjadi Rp317,1 triliun. Tapi ini bisa menjadi indikator pertumbuhan ekonomi selanjutnya, jelasnya.
Meningkatnya pagu belanja infrastruktur, lanjut Sri Mulyani, sumber utamanya antara lain berasal dari pengalihan anggaran subsidi energi yang nilainya secara bertahap terus dikurangi. Akan tetapi, hasil dari pemangkasan subsidi tidak seluruhnya mengalir ke belanja infrastruktur, karena sebagian juga disebar untuk mendukung meningkatkan pagu Kredit Usaha Rakyat (KUR).
"Kebijakan dari APBN lebih ditargetkan utnuk menyelesaikan masalah inti kemiskinan dan investasi serta menunjang produktivitas menengah-panjang," imbuh Sri Mulyani.
Kendati dikurangi, ia menekankan, pemerintah masih tetap memberikan subsidi, terutama untuk pendidikan dan kesehatan.
Tak hanya itu, lanjutnya, sebagian hasil penghematan subdisi juga dijadikan tambahan modal ke sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Tahun ini, pemerintah memberikan Penyertaan Modal Negara (PMN) ke BUMN sebesar Rp115 triliun.
"Kuartal IV kami berharap ada rebound percepatan belanja pemerintah karena secara musiman kuartal III, korporasi tutup tahun dan melakukan akselerasi belanja. Secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi di angka lima persen," tekan Sri Mulyani. (ags)