Saat ini, lanjut Jonan, rasio elektrifikasi Indonesia memang sudah mencapai 88,3 persen. Namun, pemerataannya terbilang masih kurang. Ia memberi contoh rasio cakupan (coverage ratio) listrik di Papua yang hanya sebesar 50 persen.
Pasalnya, rasio elektrifikasi hanya mengkalkulasi konsumsi listik rumah tangga, namun tak menghitung fasilitas umum dan fasilitas sosial yang terdapat di wilayah bersangkutan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, ia memahami bahwa masuknya PLN ke bisnis panas bumi untuk menciptakan kondisi listrik yang lebih efisien. Namun, ia khawatir jika fokus PLN malah terpecah-pecah.
Sebagai informasi, pembangunan transmisi di dalam megaproyek 35 ribu MW direncanakan mencapai 46.597 kilometer (km). Sepanjang 16.079 km, atau 35 persen, sudah memasuki pelaksanaan konstruksi dan sepanjang 26.709 km sudah memasuki masa pra konstruksi.
Sementara itu, transmisi yang sudah beroperasi tercatat sepanjang 3.809 km, atau 8 persen dari target.
Menanggapi ucapan Jonan, Direktur Pengadaan PLN, Supangkat Iwan Santoso mengatakan perusahaannya tetap berupaya agar transmisi bisa selesai tahun 2019 meski mengaku banyak hambatannya. Pengerjaan itu akan dilakukan sembari mengembangkan tenaga panas bumi, mengingat persiapan pemanfaatan tenaga panas bumi membutuhkan waktu yang lama.
Sebelumnya, demi menggiatkan lini bisnis panas bumi, PLN berminat untuk mengakuisisi 50 persen saham PT Pertamina Geothermal Energy (PGE). Selain itu, PLN juga tercatat mengikuti lelang Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Salak dan Darajat, yang rencananya akan dilepas Chevron Indonesia Company. (gir/gen)