Roy Arfandy, Direktur Utama Bank Permata mengatakan, perseroannya kembali mengalokasikan beban pencadangan dalam jumlah signifikan. “Yang mengakibatkan kerugian bersih sebesar Rp1,2 triliun,” ujarnya, Kamis (27/10).
Ia menerangkan, sesuai prinsip kehati-hatian, beban pencadangannya menyesuaikan kebutuhan demi menjamin portofolio pinjaman dan neraca keuangan tetap aman terjaga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peningkatan tersebut salah satunya didorong oleh pertumbuhan pendapatan non bunga sebesar 21 persen yang ditopang bancassurance, wealth management dan biaya operasional yang terkendali.
Sandeep Jain, Direktur Keuangan Bank Permata bilang, perseroannya terus menjalankan strategi untuk memperkuat landasan pertumbuhan bank, termasuk permodalan dan menjaga kesehatan likuiditas.
“Salah satu pencapaian kami pada kuartal I 2016 adalah perseroan berhasil mencatat modal inti utama (common equity tier 1,CET-1) sebesar 15,5 persen dan rasio kecukupan modal 19,3 persen. Ini tertinggi sepanjang sejarah perseroan,” ungkapnya.
Tidak cuma itu, perseroan juga membukukan loan to deposit ratio sebesar 86 persen per akhir September 2016. Ini mencerminkan likuiditas perseroan tetap sehat.
Menurut Jain, Bank permata konsisten untuk meningkatkan kualitas struktur pendanaannya, terbukti dari menguatnya rasio CASA alias dana murah hingga 43 persen. Tahun lalu, rasio CASA hanya 38 persen.
Adapun, dari sisi kredit, perseroan merasakan dampak perlambatan ekonomi makro yang tercermin dari penurunan sebesar 16 persen. Di sisi lain, rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) meningkat 4,9 persen.
“Kami mengetahui secara jelas resiko-resiko yang ada dan telah mengambil langkah-langkah yang terencana dengan baik untuk mengelola resiko tersebut, sejauh yang dapat kami prediksikan,” pungkas Jain.
Dua pemegang saham utama perseroan, yakni PT Astra International Tbk dan Standard Chartered Bank Plc diklaim tengah merencanakan peningkatan permodalan, menyusul kesuksesan rights issue senilai Rp5,5 triliun pada semester I 2016. (gir/ags)